REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI

Nahkoda ke-4

Dari Santri Untuk Negeri

Sunday, 8 May 2016

Senja Delapan Belas Tahun

Orang bilang:
Senja adalah petang-petang resah
Karena yang dijelang adalah malam
Warna pun kian kelabu
Lalu gelap, pekat dan hitam.

Orang bilang:
Senja adalah detik-detik galau
karena yang dijelang adalah kerentaan yang kian lelah
kesemarakan hanya kenangan
yang lama pudar

Orang bilang:
Senja adalah tepian segala keluh
Daun-daun letih mulai gugur
Bersama mentari yang mulai lusuh

Tapi bagiku:
Senja adalah kematangan dewasa
Pengalaman hidup, utuh ranum
Dalam kemesraan anggun
Dapat menoleh kelampauan menata penantian
Penuh kesejukan syahdu bersama
Tuhanku!

Terasa hangat rahmat nikmat melekat
Sepanjang kembara usia
Delapan belas tahun
Terasa halus dalam belai
Lembut dalam jamah
Segala berkat terurai

Bersama raut senja ada semarak
Keindahan yang semakin sejuk
Seakan ria datang bersama fajar
Menghapus batas sepi.

Saturday, 16 April 2016

Pesan Hujan

Telah aku titipkan setetes pesan pada hujan 
 
Bacalah ketika ketukan-ketukannya menyapa pundakmu Atau dengarkan saja

Angin akan membacakannya untukmu Aku tak akan menyapa lagi

Dengan menghambur debar rasa Karena tafsir kalimat seolah tak bertepi

Menghilang ditelan keindahan makna-makna Lenyap terusir teriakan air

Hujan itulah, pesanku…

by: Etika Maria (Parepare)



Monday, 11 April 2016

Caraku Merinduimu



Rindu ini tak punya bahasa
Hingga tak bisa kukirim via sms, email,
Inbox ataupun surat bahkan status
Kebodohanku selalu mengira kau tak bisa membacanya
Sementara ini hanya pecahan kalimat yang mesti dituliskan
Yang setiap kali kutulis dan kubaca

Aku selalu ingin menghapusnya
Karena itu bukan rindu yang ku maksud
Kadang juga aku malu,
Orang-orang membaca kerinduanku
Lalu aku menghapusnya lagi
Tapi kerinduan yang bukan rindu ini
Harus menjadi bukti tentang caraku merinduimu

Sunday, 10 April 2016

Simbiosis Mutualisme Pesantren


Pesantren adalah sebuah kehidupan yang unik, sebagaimana dapat disimpulkan dari gambaran lahiriahnya. Hal ini tidak lain adalah wadah, dimana dalamnya itu berdiri beberapa bangunan: kediaman pengasuh[1], masjid, tempat belajar, dan asrama.
Sejatinya, mekanisme kehidupan di pesantren lebih bersifat simbiosis mutualisme, Dimana ajaran dari kiai kepada santri dan pengabdian santri kepada kiai merupakan timbal balik yang saling menguntungkan. hal ini tentunya membekas dalam jiwa seorang santri yang pada akhirnya membentuk sikap hidup yang sejati. Di sinilah letak daya Tarik yang besar dari pesantren, hingga para orang tua masih cukup banyak yang bersedia mengirim anaknya ke pesantren.
Semenjak pertama kali memasuki kehidupan pesantren, seorang santri sudah diperkenalkan sebuah dunia tersendiri, “dipaksa, terbiasa, akhirnya luar biasa” dimana kesenjangan hidup dipaksa untuk beribadah, dan lambat laun akan terbiasa. peribadahan menempati kedudukan tertinggi. Pemeliharaan cara-cara beribadah yang dilakukan secermat mungkin, hingga pada penentuan jalan hidup seorang santri ketika keluar dari pesantren tidak lepas dari keterbiasaan. titik pusat kehidupan di letakkan pada ukuran peribadahan. Seorang santri akan memelihara kebiasaan mandi sunnah tiap hari jum’at, karena itu merupakan kelengkapan beribadah sholat jum’at itu sendiri.
Waktu bertahun-tahun dihabiskan di pesantren tidaklah dirasakan sebagai kerugian, karena penggunaan waktu di pesantren itu sendiri dinilai sebagai perbuatan beribadah. seperti pola penggunaan waktu dalam kehidupan sehari-hari yang mengikuti pola purnawaktu dengan sholat lima waktu sehari.
Tambatan hati seorang santri dipertautkan pada pengertian beribadah yang sedemikian luas dan menyeluruh. Begitu kuat cengkaman pengertian ibadah atas dirinya, hingga ia akan berkorban untuk mencapai cita-cita menjadi seorang guru atau kiai dan akan rela mengabdi kepadanya, karena itu adalah menifestasi penyerahan secara mutlak, dan merupakan kerja beribadah pula.
Dari sudut kehidupan ibadah, dapat dimengerti bagaimana kecintaan pada ilmu pengetahuan agama yang tertanam begitu kuat di pesantren, ilmu agama dan beribadah menjadi identik. dengan sendirinya muncul kecintaan mendalam pada ilmu agama sebagai nilai utama yang berkembang di pesantren. Kecintaan inilah yang dimenifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti penghormatan seorang santri yang sangat dalam kepada ahli-ahli ilmu agama, kesediaan berkorban dan bekerja keras untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut, dan kerelaan bekerja untuk mengembangkan dan memajukan pesantren sebagai tempat menyebar ilmu, tanpa menghiraukan rintangan yang mungkin akan dihadapinya dalam kerja tersebut.
Seperti halnya Pondok pesantren Miftahul Ulum Assimachi Pasuruan, berhasil mencetak ribuan cendekiawan dan ulama yang senantiasa mengabdi pada negeri. Pondok pesantren ini didirikan oleh KH. Sibaweh pada tahun 1951. Dan termasuk salah satu pondok pesantren tertua di pasuruan.
Sepintas pesantren adalah sebuah alternative ideal bagi perkembangan santri, pesantren memiliki kelengkapan nilai, bangunan social, dan tujuan-tujuan tersendiri, sehingga lebih terpaku dengan dunia tersendiri dan terpisah dari dunia lain di luarnya.
KH. Jamil Mahfud adalah ketua yayasan pondok pesantren miftahul ulum assimachi pasuruan, ia adalah pemimpin yang bijaksana, dan itu diakui dari kalangan santri, pembina pondok pesantren, dan sampai pada masyarakat sekitar. Ia besar dalam  pesantren dan tentu akan mengabdi untuk pesantren.
Pada awalnya pondok pesantren ini adalah pondok salaf, kemudian terjadi perkembangan dan kemajuan pesat ketika pengasuh pondok bersepakat menetapkan pendidikan formal dua tahun silam. salah satu pertimbangan dari pesantren menetapkan pendidikan formal bahwa, dalam mekanisme pondok pesantren, santri tidak hanya menguasai ilmu agama yang tertera dalam kitab salaf, tapi juga harus menguasai ilmu sains, matematika, dan lainnya. ini sebagai bentuk pengajaran eksotis dalam peradaban pondok pesantren.
Adapun santri yang menetap di dalamnya mencapai 300 santri, sedangkan yang tidak menetap sebanyak 200 santri, dan 57 pembina. Kegiatan keseharian santri yang menetap, memperdalam belajar kitab salaf, membahas kemaslahatan yang populer dalam ruang lingkup masyarakat (Bahtsul masail), dan belajar kehidupan untuk mandiri.
Sampai saat ini, pondok pesantren setiap tahunnya berhasil mengirim santri ke beberapa daerah untuk mengajar ilmu agama dan itu sebagai salah satu syarat untuk mendapat ijazah. setiap alumni harus mengabdi, setelah mengabdi mereka berhak mengambil ijazah. Dari sisi ini, pengabdi harus memiliki jiwa pejuang sekaligus petualang, ia harus siap menerima tantangan dan mau belajar demi melaksanakan tugas dengan baik sesuai harapan yang memberi tugas.
Mengajar ilmu agama bukan suatu kemaslahatan bagi mereka. kewajiban satu tahun untuk mengabdi adalah kesempatan menggali dunia luar dan sebagai pengalaman hidup. Masa pengabdian adalah masa belajar, sebagaimana kita ketahui bahwa belajar yang paling efektif adalah belajar dari pengalaman. Budaya pengabdian akan menumbuhakan pola pikir yang peduli terhadap sesama. Santri dalam hal ini menjalankan tugas sebagai kader agama yang mampu menciptakan rasa peduli terhadap sesama.
Pengabdian adalah sebuah proses pematangan dalam hidup. pengabdi bukan hanya seorang terpelajar yang membaca teks lalu memahami konsep, dia seorang aktor sejarah, segala yang dilakukan menjadi catatan perjalanan hidup.
Cara mengabdi ini adalah bukti konkret berkembang dan majunya pondok pesantren, hal ini berharga bagi seorang santri untuk peka terhadap asalnya, dan tentu dengan tidak melupakan identitas kesantrianya.


[1] di daerah jawa disebut kiai, Sulawesi anregurutta , lombok guru tua, sumatera buya, dan di sunda disebut ajengan.

Thursday, 31 March 2016

Syekh Ammar Bugis


Apakah anda mengenal sosok foto berikut ini? Siapakah beliau?


Beliau adalah Syeikh Ammar Bugis seorang ulama Jedah juga seorang penghafal Al-Qur’an yang lahir di Amerika Serikat pada tanggal 22 Oktober 1986. Nama Bugis di ambil dari nama kakeknya yang berasal dari Makassar, Sulawesi yaitu Syeikh Abdul Muthalib Bugis yang hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan mengajar tafsir di Masjidil Haram. Sejak lahir kondisi beliau lumpuh total tidak bisa berdiri bahkan kepala pun tak bisa ditengokkan ke kanan dan ke kiri, begitupun dengan lidah yang menjulur keluar sejak lahir, namun siapa sangka banyak kelebihan yang beliau miliki. Beliau sudah hafal Al-Qur’an sejak usia 13 tahun dalam 2 tahun, tak pernah patah semangat untuk banyak mempelajari Al-Qur’an, bahkan beliau pun mengajar sebagai dosen di Universitas Dubai.

Kehidupan beliau dengan serba keterbatasan menjadikan cerminan bagi kita agar lebih banyak bersyukur, lebih banyak belajar, lebih banyak beribadah, lebih dekat dengan Allah SWT. Beliau bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dengan cara pandang beliau dengan keterbatasannya yang sangat menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik yang sempurna tapi banyak yang tidak yakin dengan kemampuan dirinya, kurang yakin dengan jaminan Allah Yang Maha Kuasa.

Kesungguhan beliau dalam menjalani kehidupan yang terbatas terbukti atas di anugerahkannya seorang istri dan anak, sebuah keluarga kecil untuk beliau. Bahkan dalam buku karangan beliau, beliau pernah menulis beberapa pertanyaan dalam judul “Qohir Almustahil"

Bagaimana saya mengungkapkan keinginan (menikah) ini? Kira kira seperti apakah reaksi mereka? Bagaimana saya akan menjalani kehidupan rumah tangga? Apakah saya layak menikah? Apakah ada perempuan yang bersedia menjadikan saya sebagai suami?

Jawaban atas pertanyaan beliau Allah jawab dengan dihadirkannya Ummu Yusuf sebagai pendamping hidupnya.
Nah, fenomena Syeikh Ammar ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Namun pikiran dan perasaan kita sendiri yang seringkali memustahilkan diri kita yang akhirnya itu semua menjadi do’a buat kita sendiri. Dalam sebuah hadits, Allah SWT menyatakan bahwa:
“Ana ‘inda zhanni ‘abdi bii / Aku ini sesuai persangkaan hamba-Ku kepada Ku” (HR.Bukhari dan Muslim)

Artinya, Allah akan ‘’menuruti’’ persangkaan pikiran dan perasaan manusia akan takdirnya sendiri. Sebagai contoh ketika banyak orang merasa mustahil bisa naik haji karena kondisinya miskin atau banyak utang. Yang akibatnya, malah mustahil beneran. Padahal, dengan bersandar pada Allah Yang Maha Kuasa, kemiskinan dan utang bukan hambatan untuk ke Tanah Suci.
Mari kita do’akan beliau dan tingkatkan rasa syukur kita, jadikan beliau sebagai motivator dalam kehidupan kita. Aamiin…

Written By Iwan

Tuesday, 29 March 2016

Aku, Ibu dan Menyulam



Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang mak lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu."

Waktu aku duduk, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang ku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata: "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan. “Nak, apakah kamu tahu maksudnya ini?” nggak mak, jawabku. “Ketika kamu melihat benang hitam tadi, itulah kehidupan, ruwet, kamu jangan berputus asa, karena setelah ada kehidupan yang suram akan datang keindahan.”

Monday, 28 March 2016

Dekapan Hidup



Ketika aku masih bayi, sebagai makhluk spiritual yang tak membutuhkan banyak materi duniawi, bagiku yang terpenting adalah kasih dari ibu. Dan saat aku mendapatkannya melalui dekapan dan buaian, juga dari air susunya sebagai perwujudan fisik dari cinta kasihnya, kebutuhanku sudah terpenuhi dengan sempurna.

Menginjak besar, sebagai anak kecil yang senang menjelajah dan bereksperimen, yang terpenting bagiku adalah segala macam mainan dan ruang seluas-luasnya untuk berpetualang.

Di saat musim Pancaroba menghampiri jalur hidupku, aku mulai merasakan suatu kebutuhan untuk berekspresi dan mencari pengakuan dari lingkungan pergaulanku. Karena itu, yang terpenting bagiku adalah teman-temanku.

Kini, ketika usia semakin remaja, saat mataku semakin terbuka lebar dan wawasan diperluas oleh buku-buku bacaan dan perenungan, aku mulai melihat kehidupan sebagai sebuah lingkaran tak terputus dari kesengsaraan. Aku mulai menyadari bahwa, seberapa tinggi pun pencapaian duniawiku di dunia ini, jika aku melalaikan tugas utamaku untuk melepaskan diri dari lingkaran Samsara ini, maka aku tak akan pernah menggapai hal terpenting yang seharusnya aku capai Kebebasan sejati.

Thursday, 24 March 2016

Di Balik Detik Kehidupan

Waktu adalah umur manusia, ia tersusun dari detik demi detik hingga meningkat menjadi menit lalu jam, hari, dan seterusnya. Hasan Al Bashri pernah berkata: "Wahai Bani Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Ketika hari telah berlalu,maka berlalu pulalah sebahagian dari dirimu"

Diantara sebab terpenting dari suksesnya para pendahulu kita dalam menapaki segala tantangan dan rintangan yang menghadang adalah kedisiplinan mereka mengisi waktu dengan menginterospeksi setiap detik yang berlalu. Lebih-lebih terhadap menit, jam ataupun hari. Maka pantaslah jika mereka (umat Islam saat Rasulullah masih hidup) menyandang gelar "Khoirul Ummah" (sebaik-baik generasi).

Demikian agungnya makna waktu dalam kehidupan manusia. Rosulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah akan berpindah Kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya Tentang empat perkara. Tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya, tentang jasadnya, bagaimana ia mempergunakannya tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia menghabiskannya, dan tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya. (Ad Darimi: 538)

Manusia akan mempertanggungjawabkan sekecil apapun persoalannya di dunia ini. Maka sungguh mengherankan, bagaimana jam, hari dan tahun berlalu dengan sia-sia. Ibnu Mas'ud berkata: "Saya sangat membenci sekali, jika melihat seseorang yang leha-leha, tidak mengerjakan amalan untuk dunianya maupun untuk akhiratnya."
  
Begitulah para salaf ash sholih, mereka selalu mengisi umurnya dengan tekun, baik dengan perkara dien ataupun dunia, tanpa letih dan jemu. Waktu yang terkait dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT."Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz. Dzariyat :56).

Ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan penjagaan terhadap waktu. Jika seorang hamba memahami makna ibadah dan tujuan penciptaan makhluk, maka sudah pasti ia akan memahami pentingnya waktu. Dan jika waktu adalah barang yang berharga bagi orang yang berakal, itu tak lain karena waktu adalah umur manusia, sebuah kehidupan yang dimulai ketika saat kelahiran dan berakhir hingga detik-detik menjelang ajal.

Sunday, 20 March 2016

Tuhan Yang Jauh


Oleh Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir." 

Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."

Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

Hikmah parodi

Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan  nerimanya.

Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.

Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami', Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

Gus Dur dan Gus Mus

Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan 'Om'. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"

Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu 'Bapa'. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.

Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.

Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.

Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Friday, 18 March 2016

Payung Teduh Di Tanah Pattinjo

Mula-mula Baso berkenalan ketika hujan turun lebat. Sebab daerah sudut pinrang itu yang bertanah pattinjo, lebih banyak hujan dari pada panasnya. Mereka akan kembali ke rumah, tiba-tiba hujan lebat turun ketika mereka ada di depan lepau orang. Baso membawa payung dan Tenri bersama seorang temannya tidak berpayung.
Seharian ini hujan, mula-mula mereka menyangka hujan akan lekas reda, rupanya hujan yang tak berangin turun lama dan lebat. Sehingga Baso termenung di lepau itu, melihat titik-titik air dari atas ke tanah, menembusi pasir yang terkumpul.
Heran dengan Baso, mengapa dia tidak berangkat saja padahal dia membawa payung?
Baso tahu akan kehidupan Tenri, seorang gadis desa yatim piatu, anggun nan menawan wajahnya, menjadi perbincangan mulut-mulut para pemuda desa. Tidak sampai hati hendak meninggalkan mereka, meskipun belum bertegur sapa, tetapi tak membuka mulut.
Hari sore juga, tiba-tiba timbullah keberanian Baso, meskipun keringat mengucur dikala hujan, bermuka sopan menyapa Tenri.
“Tenri.... !”
Tenri tenang-tenang saja dan tidak menjawab, seakan menunggu apa yang dikatakan selanjutnya.
            “Sukakah Tenri saya tolong ?”
            “Apakah gerangan pertolongan Daeng itu ?”
“Berangkatlah lebih dahulu, pulang ke rumah, mak..mu mungkin akan khawatir jika berlarut terlalu lama di sini, pakailah payung ini berangkatlah.”
“Terima kasih!” jawab Tenri, sedang temannya tersenyum tersimpuh malu-malu juga.
“Jangan ditolak pertolongan ini, jika kelak engkau meminta pertolongan lenteran tidak ada yang menolong, hendak kemana ingin mengadu ?”
“Dan Daeng sendiri bagaimana ?” tutur Tenri.
“Saya seorang laki-laki, tak usah disusahkan, pukul 8 atau 9 malampun saya sanggup pulang sendiri, hujan ini akan reda. berangkatlah dahulu.”
“Kemana payung ini saya kembalikan ?”
“Besok saja atau jika ada waktu tak jadi apa, ke rumah macikku !”
“Terima Kasih Daeng, atas budi yang baik dari Daeng,” tutur Tenri sambil tersenyum layak bulan yang menuju pagi.”
            “Ah, baru pertolongan seperti itu, Tenri sudah hendak mengucapkan terima kasih !”
Tenri dan temannya pun berangkat, di dalam hujan dengan teduh payung, dan berlambat-lambat.
Baso tegak temenung seorang diri, menunggu hujan reda. Dalam menungannya itu, berjalanlah pikirannya kian ke sana ke mari, tatkala ia meningat payungnya, tatkala juga ia mengingat hujan di kampung halamannya yang dingin nan bersahabat. Ia menyempatkan diri untuk tinggal di negeri Pattinjo ini. Di Mandar ia dianggap orang berdarah Pattinjo, di tanah Pattinjo ia di anggap orang Mandar, kemalangan hidup tiba dalam kehidupannya.
Lama-lama ia teringat tenri meminjam payungnya, itulah rupanya Tenri, yang kerap kali disebut oleh mulut anak muda setempat, yang jadi buah pujian.

Monday, 29 February 2016

Hukum Laki-laki Berduaan Dengan Banci

Pertanyaan:

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa laki-laki itu haram berdua-duaan dengan perempuan, yang saya tanyakan adalah bagaimana hukum jika laki-laki berdua-duaan dengan banci?

Jawaban:

Hukum berduaan (khalawat) antara laki-laki dengan banci adalah haram. begitu juga perempuan berduaan dengan banci. jadi, baik laki-laki maupun perempuan yang berduaan dengan banci hukumnya sama, yaitu haram.

Dalil mengenai permasalahan ini dapat dilihat dalam kitab Al-Iqna' pada hamisy kitab Hasyiyah Bujairami juz 3 halaman 384, yang bunyinya sebagai berikut:

ولا ÙŠَجُوزُ أنْ ÙŠَØ®ْÙ„ُÙˆَ بِÙ‡ِ أجْÙ†َبِÙŠٌّ ولا أجْÙ†َبِÙŠَّØ©ٌ

"Dan tidak boleh (haram) hukumnya berduaan antara laki-laki atau perempuan yang bukan mahramnya dengan banci"

Wallahu a'lam bish shawab...  

 

Sahkah Sholat Makmum Yang Tidak Mengikuti Sujud Tilawah Imam?

Pertanyaan: 
Sahkah Sholat makmum ketika imam membaca ayat sajadah lalu sujud, sementara ia tetap berdiri, tidak mengikuti imamnya?

 Jawaban:
Tidak sah atau batal shalat seorang makmum yang tidak mengikuti imamnya ketika imam melaksanakan sujud tilawah.

Dalil mengenai masalah ini dapat dilihat dalam kitab Al-Muharrar karya Imam Abul Qasim Abdul Karim bin Muhammad Ar-Rafi'i, pada halaman 47, yang bunyinya sebagai berikut:

وتَبْØ·ُÙ„ُ صَÙ„َا تُÙ‡ُ لو Ù„َÙ… ÙŠَسْجُدُ ÙˆَÙ‚َد سَجَدَ اْلامَامُ

 Artinya:
 Dan batal shalat makmumnya seandainya ia tidak sujud tilawah, sementara imamnya sujud tilawah.

 Semoga penjelasan singkat ini dapat dipahami dengan baik.
Wallahu a'lam bish shawab...


Saturday, 27 February 2016

Keistimewaan dan Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali

  Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad. Beliau di lahirkan di kurasan pada tahun 450 H.Beliau lebih dikenal dengan nama Al-Ghozali karena ayahnya seorang pekerja pemital wol atau karena beliau berasal dari desa Ghazalah.
Al Ghazali lahir di golongan keluarga yang taat menjalankan perintah agama membuat dirinya terdorong untuk mempelajari dan mendalami dan memahami lebih jauh tentang keislaman.Keinginan yang besar dia miliki untuk mendalami ilmu agama islam, membuat dia ingin belajar pada ulama ulama terkenal.Seperti Ahmad Ibnu Muhammad Alrazkani al Thusi, kemudian dia malanjutkan pendidikan ke lembaga yang di pimpin oleh Abu Nasr al Ismail Kemudian beliau belajar tentang ilmu tasawuf pada tokoh sufi yang bernama Syekh Yussuf al Nassaj.


Al Ghazali mempunyai sifat yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Sehingga beliau meninggalkan Thus untuk mencari ilmu ilmu dan memperluas pengetahuannya kepada tokoh tokoh sufi lainnya di berbagai kota diantaranya ialah :
1.      Kota Nasyapur di kota ini beliau medalami ajaran tasawuf  pada Abul Ma’al al juwwini dan belajar pada Syekh Abu Ali Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al Farmadi.
2.      Kota Mu’adkar untuk mendalami ajaran tasawif dan mengikuti seminar yang diikuti oleh para ulama.Dan karena kecerdasannya beliau diangkat sebagai guru besar perguruan tinggi Nidzamiyah.
3.      Tahun 488 H pindah ke kota Damakus,dikota ini beliau hanya meluangkan waktunya untuk berdzikir pada Alloh dan mendekatkan diri ada Alloh.
4.      Beliau mendatangi Baitul Maqdis di palestina di kota ini beliau selalu memasuki Qubbatus untuk berdzikir.
5.       Setalah beliau puas di kota al khalil untuk berziarah pada makam bNabi Ibrahim,lalu beliau menunaikan ibadah haji dan berkunjung pada makam Nabi Muhammad SAW.
Akhir dari perjalanan hidupnya dan akhir dari kehidupannya.Beliau AL GHazali wafat dengan mandapatkan sebuah gelar Hujjatul Islam.Beliau meninggal dunia dengan tenang pada hari senin tanggal 14 jumadil Akhir tahun 505 H.
  • Keistimewaan Al Ghazali
Sebagai seorang Sufi yang terkemuka ada beberapa kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Al Ghazali antara lain :
a)      Beliau adalah seorang ulama yang mempunyai kemauan yang  sangat besar untuk mendalami ilmu-ilmu agama.
b)      Beliau pernah beritikaf pada puncak menara masjid Umawi sebelah barat,sepanjang hari dengan sedikit makan dan minum.
c)      Beliau adalah seorang ulama yang mengunjungi beberapa kota penting yang pernah sebagai pusat perkembangan ilmu tasawuf.
d)     Beliau adalah ulama yang mandapatkan gelat Hijjatul iaslam karena beliau memiliki kemampuan menghimpun akidah,syariah dan akhlak kedalam tasawuf sehingga manjadi salah satu hujjah yang menjadi tegaknya islam.
  • Pemikiran pemikiran Al Ghazali
Sebagai seorang sufi, Al Ghazali mempunyai beberapa pemikiran yang dikembangkan beliau:
a)      Antara maqam dan hal tidak begitu berbedadan hanya dikenali dengan perasaan.Apabila sudah mantapmaka ia berada dalam maqam dam apabila diamantap maka ia berada dalam hal. Setiap maqam dan hal mepunyai 3 unsur yaitu ilmu,rasa dan amal.
b)      Perjaan tasawuf seseorang adaah perjalananuntuk membersihkan diri dan menjernihkan hati.
c)      Hati ibarat cermin yang mampu menangkap makrifat ketuhanan.Kemempuan hati itu tergantung pada bersih dan beningnya hati itu sendiri.
d)     Seseorang yang sudah mencapai maqam musyahadah maka ia tidak memandang selain alloh dan tidak tahu selain dia.
e)      Ilmu mukasyafah hany dapat dipahami dengan baik dan sempurna oleh orang yang telah memasuki dunia tasawuf.

Wednesday, 30 December 2015

Anregurutta K.H. Abdul Rahman Ambo Dalle Dengan Julukan "SI RUSA" Dalam Dunia Sepak Bola


KH. Abd. Rahman Ambo Dalle atau yang familiar dipanggil Anregurutta Ambo Dalle terlahir dari lingkungan keluarga yang masih kental dengan darah kebangsawanannya. Anregurutta Ambo Dalle memiliki seorang Istri yang bernama Puang Marhawa dan dikaruniai tiga orang putra yang bernama Dr. H. Ali Rusydi Ambo Dalle, H. Abd Halim, H. M Rasyid Ridha. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tepatnya kelahiran beliau, namun diperkirakansekitar tahun 1900 M, di Desa UjungE Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Beliau wafat di Makassar tanggal 29 November 1996 (14 Rajab 1417 H) tepatnya di Rumah Sakit Akademis Jaury karena menderita sakit, lalu dimakamkan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso Kab. Barru.
 

Wali Dari Tanah Bugis 
Anregurutta Ambo Dalle sapaan akrab untuk Anregurutta KH. Abd Rahman Ambo Dalle merupakan anak dari pasangan, Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi. Mengapa Kedua orang tua Al-Mukarram memberi nama Ambo Dalle?, Ambo berarti bapak dan Dalle berarti rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat menghapal Al Qur’an. (Majalah Amanah No. 61 hal. 2) Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo itu, Anregurutta tidak dibiarkan menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Awalnya, Ambo Dalle beliau diserahkan pada seorang bibinya untuk belajar mengaji selama 15 hari dan setelah itu ibunya mengambil alih untuk menggemblengnya setiap hari.

Kasih sayang ibu yang sangat dalam kepada anaknya tidak lain karena kekhawatiran yang amat sangat kalau sang putra semata wayang ini mendapat pengaruh yang buruk dari anak sebayanya.

Tidak sukar untuk mengenali Beliau, Anregurutta KH. Abd Rahman Dalle selalu mengenakan Jubah dengan paduan jas serta surban yang melingkar sebagai pelapis songkok beliau dikenal sebagai sosok yang familiar segala lapisan masyarakat baik dari kalangan pemerintahan, masyarakat petani hingga kalangan preman, sehingga suatu waktu banyak juga santri beliau pada waktu memimpin Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangan Kabupaten Pinrang berasal dari keluarga bekas pemberontak DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.

Latar Belakang debut Pendidikan Anregurutta dimulai di Volk School (Sekolah Rakyat) sedangkan sore hari dan malamnya beliau pergunakan untuk belajar mengaji, sehingga waktunya tidak terlalu banyak untuk bermain di luar rumah, Selanjutnya, beliau meneruskan pengajiannya dengan belajar tajwid, nahwu, sharaf dan menghapal Al-Qur’an pada seorang ulama bernama KH. Muhammad Ishak. Walaupun waktunya banyak untuk belajar, namun sisa-sisa waktu yang ada beliau pergunakan untuk bermain bola yang menjadi kegemarannya. Anregurutta adalah pemain handal yang bisa menggiring bola dengan berlari kencang sehingga digelari “Si Rusa” (Majalah Gatra, Edisi Februari 1996). Anregurutta tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu sharaf, tafsir, dan fikhi, tetapi beliau pun mengikuti kursus bahasa Belanda di HIS? Pernah pula belajar di Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) di Makassar. Peluang untuk menuntut ilmu semakin terbuka tatkala telah banyak ulama asal Wajo yang kembali dari Mekkah setelah belajar di sana. Diantaranya Sayid Ali Al Ahdal, Haji Syamsuddin, Haji Ambo Omme, yang bermaksud membuka pengajian di negeri sendiri, seperti tafsir, fikhi, dan nahwu sharaf. Sementara itu, pemerintah Kerajaan Wajo (Arung Matoa) bersama Arung Ennengnge (Arung Lili), sangat senang menerima tamu ulama. Karena itu, lingkungan kerajaan tempat beliau dibesarkan sering kedatangan ulama dari Mekkah. Diantara ulama itu adalah Syekh Muhammad Al-Jawad, Sayid Abdullah Dahlan dan Sayid Hasan Al-Yamani (Kakek Dr. Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Arab Saudi).

Pada masa mempelajari pelajaran agama dilakukan dengan cara tu’dang (sistem duduk bersila); atau lebih dikenal dengan sistem pengajian sorogan dalam lingkungan masyarakat pesantren di Jawa, cara lazim tersebut dimana guru membacakan kitab, murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Keberhasilan belajar tergantung pada kecerdasan murid dalam menangkap pembicaraan sang guru. Pada tahun 1928, ketika H. Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy, seorang ulama Bugis Wajo yang lahir dan menetap di Mekkah pulang kembali ke negeri leluhurnya, Anregurutta tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu sehingga beliau berangkat ke Sengkang untuk menimba ilmu dari guru besar tersebut. Agaknya, nasib baik mengguratkan garisnya pada diri Anregurutta? Dengan kelengkapan bekal (fisik dan mental) yang matang, diantaranya Alquran yang telah dihafalnya sejak umur 7 tahun, ditambah pengetahuan lainnya sehingga menjadi modal dasar untuk mengikuti pelajaran yang diselenggarakan oleh AnreAnregurutta H. Muhammad As’ad di Sengkang yang bersifat komprehensif. Sistem ini lebih menitikberatkan pemahaman daripada hafalan sehingga sangat membekas bagi Anregurutta dan membuatnya lebih tuntas dalam meraup seluruh ilmu yang diberikan sang guru.

Suatu ketika, AnreAnregurutta Puang Aji Sade (begitu masyarakat Bugis menyapanya) menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Anregurutta? Ternyata jawaban beliau dianggap yang paling tepat dan sahih. Maka, sejak itu beliau diangkat menjadi asisten. Tahun 1935, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa bulan di sana untuk memperdalam ilmu agama, pada seorang Syekh di Mekkah. Ketika suatu saat Anregurutta Ambo Dalle menanyakan tentang hal-hal yang gaib, sang Guru memberikan kitab Khazinatul Asraril Qubra. “Baca saja kitab itu, semua yang ingin kamu tanyakan dan pelajari ada di situ,” kata Syeikh yang memberikan kitab itu. Dari sana Anregurutta mengenal rahasia kehidupan Waliyullah di zaman dahulu. Anregurutta pun mengamalkan ilmu yang diperoleh dari kitab itu, dan sejak itu pula beliau dijuluki oleh para santri dengan panggilan Anregurutta yang artinya guru kita. Kelak Anregurutta banyak mengalami kejadian gaib yang tidak dialami oleh orang awam, misalnya berawal dari mimpi membaca kitab dan langsung menghafalnya saat terbangun dari tidurnya.

Diculik Kahar Muzakkar

Perjalanan hidup terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya. Hingga pada suatu hari, tepatnya tanggal 18 juli 1955, mobil yang dikemudikan oleh Abdullah Giling, sopir (sebelumnya adalah pembonceng) merangkap sekretaris Gurutta, dicegat sekelompok orang bersenjata lengkap di Desa Belang-Belang Kab. Maros. Awalnya, Abdulllah Giling mengira pasukan tersebut adalah tentara yang sedang latihan perang-perangan. Ketika mobil berhenti, anggota pasukan bersenjata itu membuka topi bajanya dan berhamburanlah rambut panjang melampaui punggung pemiliknya, ciri khas pasukan pemberontak. Yakinlah mereka kalau sedang dihadang oleh gerombolan separatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Waktu itu DI/TII memang banyak mengajak kaum ulama untuk dibawa masuk ke hutan dan dijadikan penasehat Kahar Muzakkar. Yang menolak akan diambil secara paksa (diculik) seperti yang terjadi pada Gurutta KH. Abd. Rahman Mattammeng. Pasukan gerombolan tersebut tidak memberikan kesempatan Gurutta Ambo Dalle untuk berbicara dan langsung dinaikkan ke atas usungan. Gurutta lalu dibawa masuk ke hutan yang menjadi basis perjuangan mereka untuk bergabung dengan anak buah Kahar Muzakkar. Niat pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu untuk menculik Gurutta Ambo Dalle memang sudah lama. Ketika Gurutta dihadapkan kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini tampak gembira, “Alhamdulillah, Pak Kiai sudah di tengah-tengah kita, Insya Allah dengan doa Pak Kiai, perjuangan kita akan mencapai kemenangan,” kata Kahar Muzakkar.

Di dalam hutan, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota. Maka, terbersitlah pikiran Gurutta agar lebih baik melanjutkan misi pendidikan Islam seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Pengajian dilakukan pada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan. Gurutta Ambo Dalle dengan faham Ahlusunnah Wal Jamaah tampaknya mendapat benturan dengan sebagian anggota Kahar Muzakkar yang menganut faham Wahabi dan sebagiannya lagi tidak menghiraukan mazhab. Maka tidak mengherankan jika sering terjadi konflik antara beliau dengan Kahar Muzakkar dan pengikut setianya.

Selama delapan tahun Gurutta berada di hutan di tengah kancah perjuangan idealisme kaum gerilyawan DI/TII, selama itu pula Kahar Muzakkar tidak pernah jauh dari Gurutta. Kemana ia pergi Gurutta selalu diikutkan. Kalau ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, Gurutta mengobati hanya dengan air putih yang ia doakan, berangsur-angsur luka itu sembuh dan sang prajurit itu berguru dan menjadi murid Gurutta.

Pada tahun 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI) semakin menekan kaum pemberontak itu sehingga kekuatan mereka kian lemah dan terpecah-pecah. Gurutta pun tidak pernah lagi mendapatkan pengawalan seperti sebelumnya. Hal itu digunakan oleh Gurutta untuk mencari kontak dengan TNI dan berusaha keluar dari hutan. Beliau dijemput oleh TNI dipimpin A. Patonangi yang memang sudah lama mencarinya dan langsung dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin- waktu itu Kolonel M.Yusuf. Pertemuan itu sangat mengharukan dan suasana hening pun terjadi dalam ruangan, layaknya pertemuan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah lama memendam rindu, baru berjumpa setelah berpisah sekian lama. Sungguh banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman selama di hutan, namun yang pasti Gurutta lebih menuai kebijaksanaan dan kearifan dalam menilai semua itu.

Kepribadian Gurutta

Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan masyarakat dan pemerintah. Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan pesantren, yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas hingga keluar negeri. Kedekatannya dengan semua golongan terkadang membuat beliau mempunyai “banyak anak” sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, “Bagi saya, semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak peduli apa anak kandung atau bukan”. Contohnya, Try Sutrisno (mantan Wapres) ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak. Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Gurutta.

Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI, khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik santri laki-laki maupun perempuan? Beliau selalu menaruh rasa cinta dan sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada ditangannya sebagai hadiah kepada santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan kepadanya? Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah. Apalagi jika memasuki hari-hari besar Islam seperti pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, beliau jarang dijumpai di rumah karena kesibukan berdakwah untuk kepentingan syiar Islam.

Dengan Pemerintah, Gurutta senantiasa menjalin kerja sama yang sangat akrab. Beliau mempunyai pandangan bahwa ulama dan umara keduanya merupakan dwi tunggal yang mutlak diperlukan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, di balik semua kharisma dan keseriusan beliau itu, sesungguhnya Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat. Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis, dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Gurutta Ambo Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli. Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, sampai sekarang masih tersimpan sebagian di tangan santrinya.

Karya-Karya Al-Mukarram Anregurutta KH. Abd Rahman Ambo Dalle

Sebagai seorang ulama yang multi talenta, Anregurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle juga dikenal sebagai seorang seniman, pedagang, serta intelektual yang produktif dalam menulis. Tidak kurang ada sekitar 25 judul buku telah dihasilkan oleh Beliau.

Karya beliau banyak mengurai masalah-masalah kesufian di dalam karya-karya tulisnya. Tapi, tidak sebatas masalah kesufian saja, hampir semua cabang-cabang ilmu agama beliau kupas dengan tuntas, seperti akidah, syariah, akhlak, balaghah, mantik, dan lain-lain.

Kitab-kitab tersebut antara lain, Kitab Al-Qaulus Shadiq fi Ma’rifatil Khaliq yang diterjemahkan oleh H. Abd. Muiz Kabry kedalam bahasa Indonesia setelah melalui proses tahsis ( validasi ) hingga sebanyak tiga karena ketelitian dan kehati-hatian beliau, kitab ini memaparkan tentang kalimat penegasan yang benar dalam mengenali Allah dan tatacara pengabdian terhadap-Nya. Menurut Gurutta, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekalkan akal logika saja, tapi dengan melakukan dzikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makrifat kepada Allah. Meskipun harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah swt.

Dikemukakan bahwa cara berzikir mesti benar, sesuai yang diajarkan Rasulullah berdasarkan dalil-dalil naqli. Hati harus istiqamah dan tidak boleh goyah. Pendirian dan sikap aqidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya, tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Kitab yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushulnya tertulis dalam kitab Tanwirut Thalib, Tanwirut Thullab, Irsyadut Thullab. Tentang ilmu balaghah (sastra dan paramasastra) bukunya berjudul Ahsanul Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’I, menerangkan kosa kata, dan cara penyusunan kalimat Bahasa Arab. Kitab Sullamul Lughah, menerangkan kosa kata, percakapan dan bacaan. Yang paling menonjol adalah kitab Irsyadul Salih. yang menerangkan penjelasan rinci (syarah atas bait-bait kaidah ilmu Nahwu).

AG.H. Abd. Rahman Ambo Dalle juga mengarang pedoman berdiskusi dalam Bahasa Arab, yakni kitab Miftahul Muzakarah dan tentang ilmu mantiq (logika) dalam kitab Miftahul Fuhum fil Mi’yarif Ulum.