REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI

Nahkoda ke-4

Dari Santri Untuk Negeri

Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, 31 March 2016

Syekh Ammar Bugis


Apakah anda mengenal sosok foto berikut ini? Siapakah beliau?


Beliau adalah Syeikh Ammar Bugis seorang ulama Jedah juga seorang penghafal Al-Qur’an yang lahir di Amerika Serikat pada tanggal 22 Oktober 1986. Nama Bugis di ambil dari nama kakeknya yang berasal dari Makassar, Sulawesi yaitu Syeikh Abdul Muthalib Bugis yang hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan mengajar tafsir di Masjidil Haram. Sejak lahir kondisi beliau lumpuh total tidak bisa berdiri bahkan kepala pun tak bisa ditengokkan ke kanan dan ke kiri, begitupun dengan lidah yang menjulur keluar sejak lahir, namun siapa sangka banyak kelebihan yang beliau miliki. Beliau sudah hafal Al-Qur’an sejak usia 13 tahun dalam 2 tahun, tak pernah patah semangat untuk banyak mempelajari Al-Qur’an, bahkan beliau pun mengajar sebagai dosen di Universitas Dubai.

Kehidupan beliau dengan serba keterbatasan menjadikan cerminan bagi kita agar lebih banyak bersyukur, lebih banyak belajar, lebih banyak beribadah, lebih dekat dengan Allah SWT. Beliau bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dengan cara pandang beliau dengan keterbatasannya yang sangat menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik yang sempurna tapi banyak yang tidak yakin dengan kemampuan dirinya, kurang yakin dengan jaminan Allah Yang Maha Kuasa.

Kesungguhan beliau dalam menjalani kehidupan yang terbatas terbukti atas di anugerahkannya seorang istri dan anak, sebuah keluarga kecil untuk beliau. Bahkan dalam buku karangan beliau, beliau pernah menulis beberapa pertanyaan dalam judul “Qohir Almustahil"

Bagaimana saya mengungkapkan keinginan (menikah) ini? Kira kira seperti apakah reaksi mereka? Bagaimana saya akan menjalani kehidupan rumah tangga? Apakah saya layak menikah? Apakah ada perempuan yang bersedia menjadikan saya sebagai suami?

Jawaban atas pertanyaan beliau Allah jawab dengan dihadirkannya Ummu Yusuf sebagai pendamping hidupnya.
Nah, fenomena Syeikh Ammar ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Namun pikiran dan perasaan kita sendiri yang seringkali memustahilkan diri kita yang akhirnya itu semua menjadi do’a buat kita sendiri. Dalam sebuah hadits, Allah SWT menyatakan bahwa:
“Ana ‘inda zhanni ‘abdi bii / Aku ini sesuai persangkaan hamba-Ku kepada Ku” (HR.Bukhari dan Muslim)

Artinya, Allah akan ‘’menuruti’’ persangkaan pikiran dan perasaan manusia akan takdirnya sendiri. Sebagai contoh ketika banyak orang merasa mustahil bisa naik haji karena kondisinya miskin atau banyak utang. Yang akibatnya, malah mustahil beneran. Padahal, dengan bersandar pada Allah Yang Maha Kuasa, kemiskinan dan utang bukan hambatan untuk ke Tanah Suci.
Mari kita do’akan beliau dan tingkatkan rasa syukur kita, jadikan beliau sebagai motivator dalam kehidupan kita. Aamiin…

Written By Iwan

Saturday, 27 February 2016

Keistimewaan dan Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali

  Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad. Beliau di lahirkan di kurasan pada tahun 450 H.Beliau lebih dikenal dengan nama Al-Ghozali karena ayahnya seorang pekerja pemital wol atau karena beliau berasal dari desa Ghazalah.
Al Ghazali lahir di golongan keluarga yang taat menjalankan perintah agama membuat dirinya terdorong untuk mempelajari dan mendalami dan memahami lebih jauh tentang keislaman.Keinginan yang besar dia miliki untuk mendalami ilmu agama islam, membuat dia ingin belajar pada ulama ulama terkenal.Seperti Ahmad Ibnu Muhammad Alrazkani al Thusi, kemudian dia malanjutkan pendidikan ke lembaga yang di pimpin oleh Abu Nasr al Ismail Kemudian beliau belajar tentang ilmu tasawuf pada tokoh sufi yang bernama Syekh Yussuf al Nassaj.


Al Ghazali mempunyai sifat yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Sehingga beliau meninggalkan Thus untuk mencari ilmu ilmu dan memperluas pengetahuannya kepada tokoh tokoh sufi lainnya di berbagai kota diantaranya ialah :
1.      Kota Nasyapur di kota ini beliau medalami ajaran tasawuf  pada Abul Ma’al al juwwini dan belajar pada Syekh Abu Ali Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al Farmadi.
2.      Kota Mu’adkar untuk mendalami ajaran tasawif dan mengikuti seminar yang diikuti oleh para ulama.Dan karena kecerdasannya beliau diangkat sebagai guru besar perguruan tinggi Nidzamiyah.
3.      Tahun 488 H pindah ke kota Damakus,dikota ini beliau hanya meluangkan waktunya untuk berdzikir pada Alloh dan mendekatkan diri ada Alloh.
4.      Beliau mendatangi Baitul Maqdis di palestina di kota ini beliau selalu memasuki Qubbatus untuk berdzikir.
5.       Setalah beliau puas di kota al khalil untuk berziarah pada makam bNabi Ibrahim,lalu beliau menunaikan ibadah haji dan berkunjung pada makam Nabi Muhammad SAW.
Akhir dari perjalanan hidupnya dan akhir dari kehidupannya.Beliau AL GHazali wafat dengan mandapatkan sebuah gelar Hujjatul Islam.Beliau meninggal dunia dengan tenang pada hari senin tanggal 14 jumadil Akhir tahun 505 H.
  • Keistimewaan Al Ghazali
Sebagai seorang Sufi yang terkemuka ada beberapa kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Al Ghazali antara lain :
a)      Beliau adalah seorang ulama yang mempunyai kemauan yang  sangat besar untuk mendalami ilmu-ilmu agama.
b)      Beliau pernah beritikaf pada puncak menara masjid Umawi sebelah barat,sepanjang hari dengan sedikit makan dan minum.
c)      Beliau adalah seorang ulama yang mengunjungi beberapa kota penting yang pernah sebagai pusat perkembangan ilmu tasawuf.
d)     Beliau adalah ulama yang mandapatkan gelat Hijjatul iaslam karena beliau memiliki kemampuan menghimpun akidah,syariah dan akhlak kedalam tasawuf sehingga manjadi salah satu hujjah yang menjadi tegaknya islam.
  • Pemikiran pemikiran Al Ghazali
Sebagai seorang sufi, Al Ghazali mempunyai beberapa pemikiran yang dikembangkan beliau:
a)      Antara maqam dan hal tidak begitu berbedadan hanya dikenali dengan perasaan.Apabila sudah mantapmaka ia berada dalam maqam dam apabila diamantap maka ia berada dalam hal. Setiap maqam dan hal mepunyai 3 unsur yaitu ilmu,rasa dan amal.
b)      Perjaan tasawuf seseorang adaah perjalananuntuk membersihkan diri dan menjernihkan hati.
c)      Hati ibarat cermin yang mampu menangkap makrifat ketuhanan.Kemempuan hati itu tergantung pada bersih dan beningnya hati itu sendiri.
d)     Seseorang yang sudah mencapai maqam musyahadah maka ia tidak memandang selain alloh dan tidak tahu selain dia.
e)      Ilmu mukasyafah hany dapat dipahami dengan baik dan sempurna oleh orang yang telah memasuki dunia tasawuf.

Wednesday, 30 December 2015

Anregurutta K.H. Abdul Rahman Ambo Dalle Dengan Julukan "SI RUSA" Dalam Dunia Sepak Bola


KH. Abd. Rahman Ambo Dalle atau yang familiar dipanggil Anregurutta Ambo Dalle terlahir dari lingkungan keluarga yang masih kental dengan darah kebangsawanannya. Anregurutta Ambo Dalle memiliki seorang Istri yang bernama Puang Marhawa dan dikaruniai tiga orang putra yang bernama Dr. H. Ali Rusydi Ambo Dalle, H. Abd Halim, H. M Rasyid Ridha. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tepatnya kelahiran beliau, namun diperkirakansekitar tahun 1900 M, di Desa UjungE Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Beliau wafat di Makassar tanggal 29 November 1996 (14 Rajab 1417 H) tepatnya di Rumah Sakit Akademis Jaury karena menderita sakit, lalu dimakamkan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso Kab. Barru.
 

Wali Dari Tanah Bugis 
Anregurutta Ambo Dalle sapaan akrab untuk Anregurutta KH. Abd Rahman Ambo Dalle merupakan anak dari pasangan, Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi. Mengapa Kedua orang tua Al-Mukarram memberi nama Ambo Dalle?, Ambo berarti bapak dan Dalle berarti rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat menghapal Al Qur’an. (Majalah Amanah No. 61 hal. 2) Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo itu, Anregurutta tidak dibiarkan menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Awalnya, Ambo Dalle beliau diserahkan pada seorang bibinya untuk belajar mengaji selama 15 hari dan setelah itu ibunya mengambil alih untuk menggemblengnya setiap hari.

Kasih sayang ibu yang sangat dalam kepada anaknya tidak lain karena kekhawatiran yang amat sangat kalau sang putra semata wayang ini mendapat pengaruh yang buruk dari anak sebayanya.

Tidak sukar untuk mengenali Beliau, Anregurutta KH. Abd Rahman Dalle selalu mengenakan Jubah dengan paduan jas serta surban yang melingkar sebagai pelapis songkok beliau dikenal sebagai sosok yang familiar segala lapisan masyarakat baik dari kalangan pemerintahan, masyarakat petani hingga kalangan preman, sehingga suatu waktu banyak juga santri beliau pada waktu memimpin Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangan Kabupaten Pinrang berasal dari keluarga bekas pemberontak DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.

Latar Belakang debut Pendidikan Anregurutta dimulai di Volk School (Sekolah Rakyat) sedangkan sore hari dan malamnya beliau pergunakan untuk belajar mengaji, sehingga waktunya tidak terlalu banyak untuk bermain di luar rumah, Selanjutnya, beliau meneruskan pengajiannya dengan belajar tajwid, nahwu, sharaf dan menghapal Al-Qur’an pada seorang ulama bernama KH. Muhammad Ishak. Walaupun waktunya banyak untuk belajar, namun sisa-sisa waktu yang ada beliau pergunakan untuk bermain bola yang menjadi kegemarannya. Anregurutta adalah pemain handal yang bisa menggiring bola dengan berlari kencang sehingga digelari “Si Rusa” (Majalah Gatra, Edisi Februari 1996). Anregurutta tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu sharaf, tafsir, dan fikhi, tetapi beliau pun mengikuti kursus bahasa Belanda di HIS? Pernah pula belajar di Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) di Makassar. Peluang untuk menuntut ilmu semakin terbuka tatkala telah banyak ulama asal Wajo yang kembali dari Mekkah setelah belajar di sana. Diantaranya Sayid Ali Al Ahdal, Haji Syamsuddin, Haji Ambo Omme, yang bermaksud membuka pengajian di negeri sendiri, seperti tafsir, fikhi, dan nahwu sharaf. Sementara itu, pemerintah Kerajaan Wajo (Arung Matoa) bersama Arung Ennengnge (Arung Lili), sangat senang menerima tamu ulama. Karena itu, lingkungan kerajaan tempat beliau dibesarkan sering kedatangan ulama dari Mekkah. Diantara ulama itu adalah Syekh Muhammad Al-Jawad, Sayid Abdullah Dahlan dan Sayid Hasan Al-Yamani (Kakek Dr. Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Arab Saudi).

Pada masa mempelajari pelajaran agama dilakukan dengan cara tu’dang (sistem duduk bersila); atau lebih dikenal dengan sistem pengajian sorogan dalam lingkungan masyarakat pesantren di Jawa, cara lazim tersebut dimana guru membacakan kitab, murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Keberhasilan belajar tergantung pada kecerdasan murid dalam menangkap pembicaraan sang guru. Pada tahun 1928, ketika H. Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy, seorang ulama Bugis Wajo yang lahir dan menetap di Mekkah pulang kembali ke negeri leluhurnya, Anregurutta tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu sehingga beliau berangkat ke Sengkang untuk menimba ilmu dari guru besar tersebut. Agaknya, nasib baik mengguratkan garisnya pada diri Anregurutta? Dengan kelengkapan bekal (fisik dan mental) yang matang, diantaranya Alquran yang telah dihafalnya sejak umur 7 tahun, ditambah pengetahuan lainnya sehingga menjadi modal dasar untuk mengikuti pelajaran yang diselenggarakan oleh AnreAnregurutta H. Muhammad As’ad di Sengkang yang bersifat komprehensif. Sistem ini lebih menitikberatkan pemahaman daripada hafalan sehingga sangat membekas bagi Anregurutta dan membuatnya lebih tuntas dalam meraup seluruh ilmu yang diberikan sang guru.

Suatu ketika, AnreAnregurutta Puang Aji Sade (begitu masyarakat Bugis menyapanya) menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Anregurutta? Ternyata jawaban beliau dianggap yang paling tepat dan sahih. Maka, sejak itu beliau diangkat menjadi asisten. Tahun 1935, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap beberapa bulan di sana untuk memperdalam ilmu agama, pada seorang Syekh di Mekkah. Ketika suatu saat Anregurutta Ambo Dalle menanyakan tentang hal-hal yang gaib, sang Guru memberikan kitab Khazinatul Asraril Qubra. “Baca saja kitab itu, semua yang ingin kamu tanyakan dan pelajari ada di situ,” kata Syeikh yang memberikan kitab itu. Dari sana Anregurutta mengenal rahasia kehidupan Waliyullah di zaman dahulu. Anregurutta pun mengamalkan ilmu yang diperoleh dari kitab itu, dan sejak itu pula beliau dijuluki oleh para santri dengan panggilan Anregurutta yang artinya guru kita. Kelak Anregurutta banyak mengalami kejadian gaib yang tidak dialami oleh orang awam, misalnya berawal dari mimpi membaca kitab dan langsung menghafalnya saat terbangun dari tidurnya.

Diculik Kahar Muzakkar

Perjalanan hidup terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya. Hingga pada suatu hari, tepatnya tanggal 18 juli 1955, mobil yang dikemudikan oleh Abdullah Giling, sopir (sebelumnya adalah pembonceng) merangkap sekretaris Gurutta, dicegat sekelompok orang bersenjata lengkap di Desa Belang-Belang Kab. Maros. Awalnya, Abdulllah Giling mengira pasukan tersebut adalah tentara yang sedang latihan perang-perangan. Ketika mobil berhenti, anggota pasukan bersenjata itu membuka topi bajanya dan berhamburanlah rambut panjang melampaui punggung pemiliknya, ciri khas pasukan pemberontak. Yakinlah mereka kalau sedang dihadang oleh gerombolan separatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Waktu itu DI/TII memang banyak mengajak kaum ulama untuk dibawa masuk ke hutan dan dijadikan penasehat Kahar Muzakkar. Yang menolak akan diambil secara paksa (diculik) seperti yang terjadi pada Gurutta KH. Abd. Rahman Mattammeng. Pasukan gerombolan tersebut tidak memberikan kesempatan Gurutta Ambo Dalle untuk berbicara dan langsung dinaikkan ke atas usungan. Gurutta lalu dibawa masuk ke hutan yang menjadi basis perjuangan mereka untuk bergabung dengan anak buah Kahar Muzakkar. Niat pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu untuk menculik Gurutta Ambo Dalle memang sudah lama. Ketika Gurutta dihadapkan kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini tampak gembira, “Alhamdulillah, Pak Kiai sudah di tengah-tengah kita, Insya Allah dengan doa Pak Kiai, perjuangan kita akan mencapai kemenangan,” kata Kahar Muzakkar.

Di dalam hutan, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan, Gurutta sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali ke kota. Maka, terbersitlah pikiran Gurutta agar lebih baik melanjutkan misi pendidikan Islam seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Pengajian dilakukan pada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan. Gurutta Ambo Dalle dengan faham Ahlusunnah Wal Jamaah tampaknya mendapat benturan dengan sebagian anggota Kahar Muzakkar yang menganut faham Wahabi dan sebagiannya lagi tidak menghiraukan mazhab. Maka tidak mengherankan jika sering terjadi konflik antara beliau dengan Kahar Muzakkar dan pengikut setianya.

Selama delapan tahun Gurutta berada di hutan di tengah kancah perjuangan idealisme kaum gerilyawan DI/TII, selama itu pula Kahar Muzakkar tidak pernah jauh dari Gurutta. Kemana ia pergi Gurutta selalu diikutkan. Kalau ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, Gurutta mengobati hanya dengan air putih yang ia doakan, berangsur-angsur luka itu sembuh dan sang prajurit itu berguru dan menjadi murid Gurutta.

Pada tahun 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI) semakin menekan kaum pemberontak itu sehingga kekuatan mereka kian lemah dan terpecah-pecah. Gurutta pun tidak pernah lagi mendapatkan pengawalan seperti sebelumnya. Hal itu digunakan oleh Gurutta untuk mencari kontak dengan TNI dan berusaha keluar dari hutan. Beliau dijemput oleh TNI dipimpin A. Patonangi yang memang sudah lama mencarinya dan langsung dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin- waktu itu Kolonel M.Yusuf. Pertemuan itu sangat mengharukan dan suasana hening pun terjadi dalam ruangan, layaknya pertemuan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah lama memendam rindu, baru berjumpa setelah berpisah sekian lama. Sungguh banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman selama di hutan, namun yang pasti Gurutta lebih menuai kebijaksanaan dan kearifan dalam menilai semua itu.

Kepribadian Gurutta

Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan masyarakat dan pemerintah. Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan pesantren, yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas hingga keluar negeri. Kedekatannya dengan semua golongan terkadang membuat beliau mempunyai “banyak anak” sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, “Bagi saya, semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak peduli apa anak kandung atau bukan”. Contohnya, Try Sutrisno (mantan Wapres) ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak. Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Gurutta.

Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI, khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik santri laki-laki maupun perempuan? Beliau selalu menaruh rasa cinta dan sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada ditangannya sebagai hadiah kepada santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan kepadanya? Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah. Apalagi jika memasuki hari-hari besar Islam seperti pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, beliau jarang dijumpai di rumah karena kesibukan berdakwah untuk kepentingan syiar Islam.

Dengan Pemerintah, Gurutta senantiasa menjalin kerja sama yang sangat akrab. Beliau mempunyai pandangan bahwa ulama dan umara keduanya merupakan dwi tunggal yang mutlak diperlukan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, di balik semua kharisma dan keseriusan beliau itu, sesungguhnya Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat. Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis, dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Gurutta Ambo Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli. Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, sampai sekarang masih tersimpan sebagian di tangan santrinya.

Karya-Karya Al-Mukarram Anregurutta KH. Abd Rahman Ambo Dalle

Sebagai seorang ulama yang multi talenta, Anregurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle juga dikenal sebagai seorang seniman, pedagang, serta intelektual yang produktif dalam menulis. Tidak kurang ada sekitar 25 judul buku telah dihasilkan oleh Beliau.

Karya beliau banyak mengurai masalah-masalah kesufian di dalam karya-karya tulisnya. Tapi, tidak sebatas masalah kesufian saja, hampir semua cabang-cabang ilmu agama beliau kupas dengan tuntas, seperti akidah, syariah, akhlak, balaghah, mantik, dan lain-lain.

Kitab-kitab tersebut antara lain, Kitab Al-Qaulus Shadiq fi Ma’rifatil Khaliq yang diterjemahkan oleh H. Abd. Muiz Kabry kedalam bahasa Indonesia setelah melalui proses tahsis ( validasi ) hingga sebanyak tiga karena ketelitian dan kehati-hatian beliau, kitab ini memaparkan tentang kalimat penegasan yang benar dalam mengenali Allah dan tatacara pengabdian terhadap-Nya. Menurut Gurutta, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekalkan akal logika saja, tapi dengan melakukan dzikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makrifat kepada Allah. Meskipun harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah swt.

Dikemukakan bahwa cara berzikir mesti benar, sesuai yang diajarkan Rasulullah berdasarkan dalil-dalil naqli. Hati harus istiqamah dan tidak boleh goyah. Pendirian dan sikap aqidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya, tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlusunnah wal Jama’ah.

Kitab yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushulnya tertulis dalam kitab Tanwirut Thalib, Tanwirut Thullab, Irsyadut Thullab. Tentang ilmu balaghah (sastra dan paramasastra) bukunya berjudul Ahsanul Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’I, menerangkan kosa kata, dan cara penyusunan kalimat Bahasa Arab. Kitab Sullamul Lughah, menerangkan kosa kata, percakapan dan bacaan. Yang paling menonjol adalah kitab Irsyadul Salih. yang menerangkan penjelasan rinci (syarah atas bait-bait kaidah ilmu Nahwu).

AG.H. Abd. Rahman Ambo Dalle juga mengarang pedoman berdiskusi dalam Bahasa Arab, yakni kitab Miftahul Muzakarah dan tentang ilmu mantiq (logika) dalam kitab Miftahul Fuhum fil Mi’yarif Ulum.