REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI

Nahkoda ke-4

Dari Santri Untuk Negeri

Showing posts with label Cersing. Show all posts
Showing posts with label Cersing. Show all posts

Tuesday, 29 March 2016

Aku, Ibu dan Menyulam



Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang mak lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu."

Waktu aku duduk, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang ku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata: "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan. “Nak, apakah kamu tahu maksudnya ini?” nggak mak, jawabku. “Ketika kamu melihat benang hitam tadi, itulah kehidupan, ruwet, kamu jangan berputus asa, karena setelah ada kehidupan yang suram akan datang keindahan.”

Friday, 18 March 2016

Payung Teduh Di Tanah Pattinjo

Mula-mula Baso berkenalan ketika hujan turun lebat. Sebab daerah sudut pinrang itu yang bertanah pattinjo, lebih banyak hujan dari pada panasnya. Mereka akan kembali ke rumah, tiba-tiba hujan lebat turun ketika mereka ada di depan lepau orang. Baso membawa payung dan Tenri bersama seorang temannya tidak berpayung.
Seharian ini hujan, mula-mula mereka menyangka hujan akan lekas reda, rupanya hujan yang tak berangin turun lama dan lebat. Sehingga Baso termenung di lepau itu, melihat titik-titik air dari atas ke tanah, menembusi pasir yang terkumpul.
Heran dengan Baso, mengapa dia tidak berangkat saja padahal dia membawa payung?
Baso tahu akan kehidupan Tenri, seorang gadis desa yatim piatu, anggun nan menawan wajahnya, menjadi perbincangan mulut-mulut para pemuda desa. Tidak sampai hati hendak meninggalkan mereka, meskipun belum bertegur sapa, tetapi tak membuka mulut.
Hari sore juga, tiba-tiba timbullah keberanian Baso, meskipun keringat mengucur dikala hujan, bermuka sopan menyapa Tenri.
“Tenri.... !”
Tenri tenang-tenang saja dan tidak menjawab, seakan menunggu apa yang dikatakan selanjutnya.
            “Sukakah Tenri saya tolong ?”
            “Apakah gerangan pertolongan Daeng itu ?”
“Berangkatlah lebih dahulu, pulang ke rumah, mak..mu mungkin akan khawatir jika berlarut terlalu lama di sini, pakailah payung ini berangkatlah.”
“Terima kasih!” jawab Tenri, sedang temannya tersenyum tersimpuh malu-malu juga.
“Jangan ditolak pertolongan ini, jika kelak engkau meminta pertolongan lenteran tidak ada yang menolong, hendak kemana ingin mengadu ?”
“Dan Daeng sendiri bagaimana ?” tutur Tenri.
“Saya seorang laki-laki, tak usah disusahkan, pukul 8 atau 9 malampun saya sanggup pulang sendiri, hujan ini akan reda. berangkatlah dahulu.”
“Kemana payung ini saya kembalikan ?”
“Besok saja atau jika ada waktu tak jadi apa, ke rumah macikku !”
“Terima Kasih Daeng, atas budi yang baik dari Daeng,” tutur Tenri sambil tersenyum layak bulan yang menuju pagi.”
            “Ah, baru pertolongan seperti itu, Tenri sudah hendak mengucapkan terima kasih !”
Tenri dan temannya pun berangkat, di dalam hujan dengan teduh payung, dan berlambat-lambat.
Baso tegak temenung seorang diri, menunggu hujan reda. Dalam menungannya itu, berjalanlah pikirannya kian ke sana ke mari, tatkala ia meningat payungnya, tatkala juga ia mengingat hujan di kampung halamannya yang dingin nan bersahabat. Ia menyempatkan diri untuk tinggal di negeri Pattinjo ini. Di Mandar ia dianggap orang berdarah Pattinjo, di tanah Pattinjo ia di anggap orang Mandar, kemalangan hidup tiba dalam kehidupannya.
Lama-lama ia teringat tenri meminjam payungnya, itulah rupanya Tenri, yang kerap kali disebut oleh mulut anak muda setempat, yang jadi buah pujian.