REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI
REPUBLIK SANTRI REPUBLIK SANTRI

Nahkoda ke-4

Dari Santri Untuk Negeri

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Sunday, 10 April 2016

Simbiosis Mutualisme Pesantren


Pesantren adalah sebuah kehidupan yang unik, sebagaimana dapat disimpulkan dari gambaran lahiriahnya. Hal ini tidak lain adalah wadah, dimana dalamnya itu berdiri beberapa bangunan: kediaman pengasuh[1], masjid, tempat belajar, dan asrama.
Sejatinya, mekanisme kehidupan di pesantren lebih bersifat simbiosis mutualisme, Dimana ajaran dari kiai kepada santri dan pengabdian santri kepada kiai merupakan timbal balik yang saling menguntungkan. hal ini tentunya membekas dalam jiwa seorang santri yang pada akhirnya membentuk sikap hidup yang sejati. Di sinilah letak daya Tarik yang besar dari pesantren, hingga para orang tua masih cukup banyak yang bersedia mengirim anaknya ke pesantren.
Semenjak pertama kali memasuki kehidupan pesantren, seorang santri sudah diperkenalkan sebuah dunia tersendiri, “dipaksa, terbiasa, akhirnya luar biasa” dimana kesenjangan hidup dipaksa untuk beribadah, dan lambat laun akan terbiasa. peribadahan menempati kedudukan tertinggi. Pemeliharaan cara-cara beribadah yang dilakukan secermat mungkin, hingga pada penentuan jalan hidup seorang santri ketika keluar dari pesantren tidak lepas dari keterbiasaan. titik pusat kehidupan di letakkan pada ukuran peribadahan. Seorang santri akan memelihara kebiasaan mandi sunnah tiap hari jum’at, karena itu merupakan kelengkapan beribadah sholat jum’at itu sendiri.
Waktu bertahun-tahun dihabiskan di pesantren tidaklah dirasakan sebagai kerugian, karena penggunaan waktu di pesantren itu sendiri dinilai sebagai perbuatan beribadah. seperti pola penggunaan waktu dalam kehidupan sehari-hari yang mengikuti pola purnawaktu dengan sholat lima waktu sehari.
Tambatan hati seorang santri dipertautkan pada pengertian beribadah yang sedemikian luas dan menyeluruh. Begitu kuat cengkaman pengertian ibadah atas dirinya, hingga ia akan berkorban untuk mencapai cita-cita menjadi seorang guru atau kiai dan akan rela mengabdi kepadanya, karena itu adalah menifestasi penyerahan secara mutlak, dan merupakan kerja beribadah pula.
Dari sudut kehidupan ibadah, dapat dimengerti bagaimana kecintaan pada ilmu pengetahuan agama yang tertanam begitu kuat di pesantren, ilmu agama dan beribadah menjadi identik. dengan sendirinya muncul kecintaan mendalam pada ilmu agama sebagai nilai utama yang berkembang di pesantren. Kecintaan inilah yang dimenifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti penghormatan seorang santri yang sangat dalam kepada ahli-ahli ilmu agama, kesediaan berkorban dan bekerja keras untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut, dan kerelaan bekerja untuk mengembangkan dan memajukan pesantren sebagai tempat menyebar ilmu, tanpa menghiraukan rintangan yang mungkin akan dihadapinya dalam kerja tersebut.
Seperti halnya Pondok pesantren Miftahul Ulum Assimachi Pasuruan, berhasil mencetak ribuan cendekiawan dan ulama yang senantiasa mengabdi pada negeri. Pondok pesantren ini didirikan oleh KH. Sibaweh pada tahun 1951. Dan termasuk salah satu pondok pesantren tertua di pasuruan.
Sepintas pesantren adalah sebuah alternative ideal bagi perkembangan santri, pesantren memiliki kelengkapan nilai, bangunan social, dan tujuan-tujuan tersendiri, sehingga lebih terpaku dengan dunia tersendiri dan terpisah dari dunia lain di luarnya.
KH. Jamil Mahfud adalah ketua yayasan pondok pesantren miftahul ulum assimachi pasuruan, ia adalah pemimpin yang bijaksana, dan itu diakui dari kalangan santri, pembina pondok pesantren, dan sampai pada masyarakat sekitar. Ia besar dalam  pesantren dan tentu akan mengabdi untuk pesantren.
Pada awalnya pondok pesantren ini adalah pondok salaf, kemudian terjadi perkembangan dan kemajuan pesat ketika pengasuh pondok bersepakat menetapkan pendidikan formal dua tahun silam. salah satu pertimbangan dari pesantren menetapkan pendidikan formal bahwa, dalam mekanisme pondok pesantren, santri tidak hanya menguasai ilmu agama yang tertera dalam kitab salaf, tapi juga harus menguasai ilmu sains, matematika, dan lainnya. ini sebagai bentuk pengajaran eksotis dalam peradaban pondok pesantren.
Adapun santri yang menetap di dalamnya mencapai 300 santri, sedangkan yang tidak menetap sebanyak 200 santri, dan 57 pembina. Kegiatan keseharian santri yang menetap, memperdalam belajar kitab salaf, membahas kemaslahatan yang populer dalam ruang lingkup masyarakat (Bahtsul masail), dan belajar kehidupan untuk mandiri.
Sampai saat ini, pondok pesantren setiap tahunnya berhasil mengirim santri ke beberapa daerah untuk mengajar ilmu agama dan itu sebagai salah satu syarat untuk mendapat ijazah. setiap alumni harus mengabdi, setelah mengabdi mereka berhak mengambil ijazah. Dari sisi ini, pengabdi harus memiliki jiwa pejuang sekaligus petualang, ia harus siap menerima tantangan dan mau belajar demi melaksanakan tugas dengan baik sesuai harapan yang memberi tugas.
Mengajar ilmu agama bukan suatu kemaslahatan bagi mereka. kewajiban satu tahun untuk mengabdi adalah kesempatan menggali dunia luar dan sebagai pengalaman hidup. Masa pengabdian adalah masa belajar, sebagaimana kita ketahui bahwa belajar yang paling efektif adalah belajar dari pengalaman. Budaya pengabdian akan menumbuhakan pola pikir yang peduli terhadap sesama. Santri dalam hal ini menjalankan tugas sebagai kader agama yang mampu menciptakan rasa peduli terhadap sesama.
Pengabdian adalah sebuah proses pematangan dalam hidup. pengabdi bukan hanya seorang terpelajar yang membaca teks lalu memahami konsep, dia seorang aktor sejarah, segala yang dilakukan menjadi catatan perjalanan hidup.
Cara mengabdi ini adalah bukti konkret berkembang dan majunya pondok pesantren, hal ini berharga bagi seorang santri untuk peka terhadap asalnya, dan tentu dengan tidak melupakan identitas kesantrianya.


[1] di daerah jawa disebut kiai, Sulawesi anregurutta , lombok guru tua, sumatera buya, dan di sunda disebut ajengan.

Thursday, 24 March 2016

Di Balik Detik Kehidupan

Waktu adalah umur manusia, ia tersusun dari detik demi detik hingga meningkat menjadi menit lalu jam, hari, dan seterusnya. Hasan Al Bashri pernah berkata: "Wahai Bani Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Ketika hari telah berlalu,maka berlalu pulalah sebahagian dari dirimu"

Diantara sebab terpenting dari suksesnya para pendahulu kita dalam menapaki segala tantangan dan rintangan yang menghadang adalah kedisiplinan mereka mengisi waktu dengan menginterospeksi setiap detik yang berlalu. Lebih-lebih terhadap menit, jam ataupun hari. Maka pantaslah jika mereka (umat Islam saat Rasulullah masih hidup) menyandang gelar "Khoirul Ummah" (sebaik-baik generasi).

Demikian agungnya makna waktu dalam kehidupan manusia. Rosulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah akan berpindah Kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya Tentang empat perkara. Tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya, tentang jasadnya, bagaimana ia mempergunakannya tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia menghabiskannya, dan tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya. (Ad Darimi: 538)

Manusia akan mempertanggungjawabkan sekecil apapun persoalannya di dunia ini. Maka sungguh mengherankan, bagaimana jam, hari dan tahun berlalu dengan sia-sia. Ibnu Mas'ud berkata: "Saya sangat membenci sekali, jika melihat seseorang yang leha-leha, tidak mengerjakan amalan untuk dunianya maupun untuk akhiratnya."
  
Begitulah para salaf ash sholih, mereka selalu mengisi umurnya dengan tekun, baik dengan perkara dien ataupun dunia, tanpa letih dan jemu. Waktu yang terkait dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT."Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz. Dzariyat :56).

Ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan penjagaan terhadap waktu. Jika seorang hamba memahami makna ibadah dan tujuan penciptaan makhluk, maka sudah pasti ia akan memahami pentingnya waktu. Dan jika waktu adalah barang yang berharga bagi orang yang berakal, itu tak lain karena waktu adalah umur manusia, sebuah kehidupan yang dimulai ketika saat kelahiran dan berakhir hingga detik-detik menjelang ajal.

Sunday, 20 March 2016

Tuhan Yang Jauh


Oleh Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir." 

Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."

Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

Hikmah parodi

Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan  nerimanya.

Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.

Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami', Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

Gus Dur dan Gus Mus

Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan 'Om'. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"

Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu 'Bapa'. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.

Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.

Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.

Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta